Panaskan sepotong besi: mula-mula merah membara, lalu jingga, kuning, hingga putih menyilaukan. Mengapa warnanya berubah dengan suhu? Pertanyaan sederhana ini hampir meruntuhkan fisika di akhir tahun 1800-an — sampai Max Planck menemukan jawaban radikal yang melahirkan seluruh fisika kuantum.
💥 Bencana ultraviolet
Teori klasik (Rayleigh-Jeans) meramalkan benda panas memancarkan energi tak hingga pada gelombang pendek (ultraviolet). Jelas mustahil — kalau benar, menyalakan oven akan memanggang seisi ruangan dengan sinar-X!
🎁 Solusi Planck: paket energi
Planck menebak energi cahaya hanya bisa keluar dalam paket diskrit(E = hf). Paket untuk gelombang pendek sangat "mahal", sehingga jarang terpancar. Kurva pun menukik turun di UV — cocok sempurna dengan pengamatan.
λ_puncak · T = 2,898 × 10⁶ nm·K
Hukum pergeseran Wien: makin tinggi suhu, makin pendek panjang gelombang puncaknya (bergeser ke biru). Plus hukum Stefan-Boltzmann: total daya yang dipancarkan sebanding dengan T⁴.
💡Bayangkan begini: bayangkan mesin penjual energi yang hanya menerima uang pas dalam koin pecahan tertentu. Untuk cahaya biru/ungu, koin yang dibutuhkan bernilai sangat besar — kebanyakan benda "tak mampu membayar", jadi sangat sedikit cahaya UV yang keluar. Inilah yang memotong "bencana" klasik.
🌍Di Dunia Nyata: Hukum ini dipakai untuk mengukur suhu bintang dari warnanya (bintang biru lebih panas dari merah), mendesain lampu pijar & termometer inframerah, dan mempelajari sisa cahaya Big Bang (radiasi latar kosmik 2,7 K) — salah satu spektrum benda hitam paling sempurna yang pernah diukur.